Kalandika, Project Diam-diam yang Dimulai Tengah Malam

Orys Kalandika

INSOMNIAEnt.id – Malam kerap dikaitkan dengan mimpi dan imajinasi. Tak jarang, malam menjadi teman dalam mencurahkan inspirasi. Bahkan keheningan malam sering dimanfaatkan untuk merefleksi diri.

Orrysta Dwi Meyrani, vokalis dari kolektif musik Over Temperature, membuktikan fikrah soal malam itu adalah benar! Karena saat terjaga disuatu malam, dia justru mampu mengejawantahkan pemikirannya dalam sebuah gita yang penuh reflektif.

“Kalandika” menjadi karya perdananya sebagai penyanyi solo. Satu pembuktian baru bahwa gadis berusia 20 tahun itu, mempunyai segudang potensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

[Artikel lain]

Profil Nida Putri N, Penyanyi Muda Asal Tangerang Selatan

Dikenal dengan panggilan Orys, dia sudah hilir mudik diberbagai panggung hiburan di Kota Serang maupun sekitarnya. Bukan hanya sebagai lead singer di Over Temperature, tapi sampai merambah pada urusan pembawa acara a.k.a MC.

Balik soal karyanya, “Kalandika” memiliki alunan melancholy yang begitu kental. Dibuka dengan orkestra, string, petikan gitar, dan piano, mudah saja menebak kalau lagu ini memiliki tingkat “kegetiran” yang tinggi. Hal ini berkelindan dengan sajak pertama yang terucap; “Laut telah menelan namamu, berduka untuk rasa yang takkan pernah lahir”.

Benar aja! Orys mengakui bahwa lagu ini adalah representasi dari pengalaman pribadi dan teman dekatnya, soal bagaimana menjaga harapan dalam sebuah hubungan yang kondisinya tidak nyaman.

“Liriknya aku buat sendiri saat tengah malam. Berkisah soal ada orang yang menyimpan rasa, padahal hubungan diantara mereka tidak baik,” cetus Orys saat bercerita tentang “Kalandika” kepada InsomniaEnt.id.

Artwork Kalandika. (IG/@owrys)

“Kalandika” juga menyelipkan sejumlah nuansa semiotika. Setidaknya tergambar dari penggalan lirik “Semesta, rayakanlah untuk cinta yang tak kan pernah menjadi suara, untuk nyala, menjadi indah, tersisa bisu dan remang”.

Meski terdengar puitis, ternyata “Kalandika” enggak punya arti tertentu. Orys bilang kalau dia menyukai nama itu. Kebetulan, namanya beririsan dengan diksi Kalandra, yang dalam bahasa Sansekerta mempunyai makna penerang masyarakat.

“Memang lagu ini kayak merayakan kesedihan, sehingga dari “Kalandika” aku harap bisa menjadi cahaya penerang yang memberi harapan bagi yang mendengarkan,” kata dia.

[Artikel lain]

Serius Jajaki Karir Solo, Monica Hapsari Lepas Karya Perdana

Orys nyeritain kalau “Kalandika” adalah alteregonya. Malah uniknya, project solonya ini digarap dengan senyap. Tanpa isu bahkan promo jor-joran.

Bukan tanpa maksud. Menurut dia, lagu berdurasi hampir 6 menit ini adalah karya yang sangat personal. Saking personalnya, dia tidak berkepektasi karya debut solonya ini didengar orang banyak. Orys cuma berharap pesan di lagu ini sampai pada muara yang dituju.

“Konsep aku memang enggak mau terlalu eksposur, karena pengen fokus nyampein pesan lagu ini,” ucap wanita yang sedang menempuh pendidikan di Untirta ini.

Potret Orys saat tampil bersama Over Temperature. (IG/@over.temperature)

Walaupun gitu, lagu ini tetap diproduksi se-proper mungkin. Dia menyebut “Kalandika” diproduksi di Goodlcuk Studio, Cilegon yang sudah dikenal luas kerap melahirkan beberapa karya menarik bagi musisi di Banten. Untuk menyempurnakan lagu ini, Orys dibantu oleh Fadil dan Iman dari unit Veer Hovens yang bertindak sebagai aransemen sekaligus komposer.

Bahkan Fadil itu menyumbangkan vokalnya diseparuh lagu. Sehingga ketika mendengarkan “Kalandika”, sekilas kita akan mengenang salah satu karya fenomenal dari Frau, “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa”.

Meski dikerjakan secara diam-diam, dan baru diumumkan saat perilisan, “Kalandika” mendapat atensi positif. Setidaknya dari circle yang tidak menyangka bahwa Orys membawa warna yang beda dari produk band-nya. Malah dia enggak menutup kemungkinan untuk melanjutkan proyek solo ini jika sambutannya terus membaik.

“Aku di band tetap. Tapi di sini aku benar-benar bisa menumpahkan idealisme aku saja. Jadi ya sambil berjalan, sih,” tutur pengagum Pidi Baiq dan Danilla ini seraya berkelakar. (Fch)

Buat yang penasaran, “Kalandika” sudah tersedia diberbagai pemutar musik digital. Selamat mendengarkan!

Share :

Baca Juga