Seraphic Shades Membingkai Luka dalam Lanskap Dream Pop

Seraphic Shades All I Do

INSOMNIAEnt.id – Di tengah geliat skena alternatif Banten yang semakin ramai oleh suara-suara baru, muncul satu nama yang membawa nuansa berbeda: Seraphic Shades. Kuartet yang lahir pada penghujung 2025 ini datang dengan pendekatan yang tidak terburu-buru untuk terdengar keras.

Mereka memilih jalur yang lebih halus: atmosfer dreamy, lapisan gitar yang melayang, dan emosi yang dibungkus dalam warna pop yang hangat. Mereka seperti menggabungkan romantisme dream pop dengan energi ringan yang membuat lagu-lagunya tetap terasa hidup dan bergerak.

[Artikel lain]

Precious, Upaya Somethink Perkuat Karakter Dream Pop-nya

Diperkuat oleh Chachalia Nurma Hera, Sakti Handika, Rafi Putra Dewangga, Syahrul Rafli, dan Jeffry Timothy, Seraphic Shades membangun identitas musikal yang terasa puitis tetapi tetap mudah didekati. Tidak sekadar melankolis, tetapi juga punya semacam euforia kecil yang membuat pendengar ingin tersenyum diam-diam di tengah kesenduan.

Karakter itu terasa kuat dalam single debut mereka, “All I Do”. Lagu ini bergerak di atas cerita tentang seseorang yang terus berusaha menjadi cukup bagi orang yang dicintainya—namun pada akhirnya sadar bahwa seluruh pengorbanan itu tak pernah benar-benar dihargai.

Ada rasa kecewa, luka, hingga kemarahan yang perlahan tumbuh di balik liriknya, tetapi semuanya disampaikan tanpa ledakan berlebihan. Seraphic Shades justru memilih pendekatan emosional yang subtil, membiarkan nuansa lagu berbicara perlahan sebelum akhirnya menghantam di bagian akhir.

Secara lirik, “All I Do” menyoroti bagaimana janji-janji manis perlahan kehilangan makna ketika realitas berjalan ke arah yang berbeda. Kata-kata seperti “selamanya” dan “berharga” yang awalnya terdengar meyakinkan, berubah menjadi sesuatu yang kosong ketika hubungan mulai retak. Lagu ini menangkap perasaan ditinggalkan oleh seseorang yang pergi begitu saja, seolah tidak pernah meninggalkan luka apa pun.

“Lagu ini lahir dari rasa capek karena terus mencoba jadi cukup buat seseorang, tapi ujung-ujungnya semua usaha itu kayak enggak pernah dianggap ada,” ujar Sakti Handika.

Di tengah banyaknya rilisan alternatif yang berlomba terdengar megah dan kompleks, Seraphic Shades justru menarik perhatian lewat kesederhanaan atmosfer yang mereka bangun. Mereka tidak terdengar ingin menjadi band paling bising di ruangan, tetapi cukup percaya diri untuk menciptakan ruang kecil tempat pendengarnya bisa tenggelam sejenak dalam nostalgia, patah hati, dan gema-gema perasaan yang sulit dijelaskan.

[Artikel lain]

Indie Pop Pulau Dewata, Sourmilk Membuka Awal Tahun Dengan “SIKE”

“Kami ingin ‘All I Do’ terdengar dreamy dan ringan di permukaan, tapi ketika didengar lebih dalam, ada rasa marah dan kecewa yang sebenarnya cukup personal,” ucap dia.

Lagu berdurasi 4 menit 11 detik ini sudah tersedia diberbagai pemutar musik digital. Bagaimana menurut kalian lagu perdana Seraphic Shades, ini?

Share :

Baca Juga