Swara Jalawara Hawara, dari Huma untuk Musik Dunia

Swara Jalawara Hawara

INSOMNIAEnt.id – Pernah dengar ngahuma? Untuk masyarakat Banten Selatan, istilah itu tidak akan asing. Ngahuma adalah suatu sistem atau pola pertanian yang mengubah hutan alam menjadi hutan garapan dengan tujuan untuk menghasilkan pangan terutama padi.

Konsep bercocok tanam seperti ini dulunya tumbuh subur di Banten Selatan hingga menjadi tradisi. Bahkan Cibaliung, Pandeglang menjadi wilayah dengan lahan huma terluas se-Provinsi Banten.

Tetapi seiring berjalannya waktu dan pergeseran cara bertani, jumlah lahan dan petani huma di sana semakin berkurang, warisan tradisi yang hidup di masyarakatnya pun perlahan menghilang.

[Artikel Lain]

Pesuling Beranda Rumah, Rijal Mahfud Rilis Debut Solonya

Kondisi itu pada akhirnya menjadi keresahan bagi seorang Rizal Mahfud, pemuda asli Cibaliung, yang kini dikenal sebagai musisi muda yang menekuni musik etnik. Rizal mulai mengenal tradisi Huma beberapa tahun lalu, kini akan merefleksikan proses spiritualnya tentang Huma dalam sebuah pertunjukan seni yang berasal dari bebunyian padi Huma.

Pertunjukan berupa reka cipta sastra dan musik itu dinamainya Swara Jalawara Hawara: Suara Untuk Padi. “Swara” berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti “Suara”. Sedangkan “Jalawara Hawara” merupakan salah satu varietas padi yang ditanam dengan sistem huma atau ladang kering.

Rizal menceritakan, Swara Jalawara Hawara merupakan ruang nostalgia sekaligus refleksi tentang kisah dan suara Huma. Baginya, kisah tentang ligar Huma di Pandeglang Selatan tidak seharusnya dilupakan, meski lesung telah tergantikan oleh penggilingan padi, tapi bunyinya masih ada dan bergema.

“Hal ini tentu saja berakibat pada pewarisan tradisi huma yang semakin tidak dikenal oleh generasi muda. Kekhawatiran kami akan hal tersebut, memunculkan inisiatif untuk menghadirkan kembali ekspresi budaya yang lahir dari warisan tradisi huma,” cetusnya.

Pria yang juga dikenal sebagai pemain suling band etnik folk Beranda Rumah ini membocorkan jika pertunjukan kali ini akan menyuguhkan “sejuta” pesona tentang Huma. Dia bakal dibantu oleh sejumlah seniman lintas disiplin sebagai kolaborator.

Musik yang bakal dimainkan dalam Swara Jalawara Hawara: Suara untuk Padi, akan diinterpretasikan lewat tari, pantomim, dan monolog.

[Artikel Lain]

Semangat Agraria, Ode Bagi Petani dari Boeatan Tjibalioeng

“Karya kami juga akan dipertemukan dengan instrumen musik etnik seperti calung renteng, angklung buhun, kecapi buhun, suling kumbang, karinding, omprang, sampai lesung yang dipadukan dengan intrumen modern piano, bass, dan drum. Nada-nada salendro khas Banten Selatan akan diharmonisasikan dengan aliran musik yang lagi hype, yakni pop-jazz, chill-out, sampai dengan bossanova,” beber dia.

Swara Jalawara Hawara: Suara Untuk Padi akan dilangsungkan pada 21 Januari 2023 di Kantor Urusan Berkarya, Boeatan Tjibalioeng, yang berada di Kampung Namprak, Desa Mendung, Kecamatan Cibaliung, Pandeglang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ARTIKEL TERBARU

Follow Us

Artikel Terkait