Support System, Repertoar Perdana RGZY yang Usung Distorsi Cepat

INSOMNIAEnt.id – RGZY (dibaca Ragazy) meletakkan tonggak baru dalam sejarah musik arus pinggir di Banten. Per tanggal 4 Februari 2026, kolektif Hardcore ini melesatkan mini album perdananya berlabel Support System.

Kehadiran karya ini bak suara mesin tua yang dipaksa berlari di jalan tol—bising, kasar, tetapi jujur dan tak bisa diabaikan. Dengan durasi total mini album hampir 11 menit, album ini menjanjikan warna musik yang berbeda dan dapat melengkapi lanskap musik keras tanah air.

[Artikel lain]

Kembali dengan Formasi Baru, RGZY Rilis “Aku”

Bagi RGZY, Support System bukan sekadar Extended Play (EP) berisi lima track. Ia lebih menyerupai catatan harian yang ditulis dengan tinta amarah, kegelisahan, dan solidaritas yang tumbuh di antara ruang-ruang sempit kehidupan para personelnya. Tema besar yang mereka usung menyoroti realitas relasi antar-manusia—tentang bagaimana seseorang bertahan, runtuh, lalu bangkit lagi karena kehadiran orang lain di sekitarnya.

Secara musikal, RGZY memilih jalur yang tidak ramah kompromi. Distorsi gitar yang melaju cepat menjadi tulang punggung, sedangkan tempo yang agresif bergerak seperti denyut adrenalin yang menolak melambat. Lirik-liriknya hadir lugas, kadang terasa seperti teriakan yang dilemparkan ke tembok realitas sosial, kadang seperti monolog batin yang berusaha mencari celah cahaya di tengah riuhnya tekanan hidup urban.

“Kami tidak mencoba menjadi suara bagi generasi. Kami hanya mencatat bagaimana rasanya hidup ketika dunia terasa bergerak terlalu cepat, sementara pikiran tertinggal jauh di belakang,” kata Cevy, vokalis RGZY.

Artwork Support System

Perilisan Support System menandai fase penting perjalanan RGZY. EP ini bukan hanya pernyataan musikal, melainkan refleksi tentang bagaimana komunitas, pertemanan, dan keberanian untuk tetap bersuara menjadi fondasi bertahan di tengah gempuran realitas yang kerap meminggirkan.

Support System bukan album tentang pahlawan. Tidak ada narasi kemenangan heroik di sini. Yang ada justru cerita tentang orang-orang biasa yang berusaha tetap berdiri meski lantai terus retak. Tentang bagaimana support system kadang bukan solusi, tapi sekadar alasan untuk tidak menyerah hari itu.

Support System adalah tentang bertahan hidup. Tentang orang-orang yang saling menopang bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka tahu rasanya jatuh sendirian. Tentang lingkaran kecil yang lebih jujur daripada sistem besar yang sibuk menjual mimpi,” kata pengagum Korn ini.

[Artikel lain]

RGZY Rekrut Erland Aslach di Single Terakhir

Formasi RGZY—Cevy (vokal), Riki (gitar), Aldi (gitar), Erdy (bass), dan Desna (drum)—bukan nama baru dalam lingkaran skena alternatif lokal. Sebelum merilis Support System, mereka lebih dulu menebar sinyal eksistensi lewat tiga nomor tunggal: Aku (2024), Bisa (2024), dan Teriakan Lantang (2025). Ketiga lagu tersebut berfungsi seperti fondasi beton yang menopang arah musikal RGZY hari ini: keras, personal, dan penuh urgensi.

Eksplorasi mereka juga meluas lewat kolaborasi lintas warna bersama Tongkat Kayu, Arkaistone, dan Syifa Kusuma dalam lagu Pemenang. Kolaborasi ini menjadi indikasi bahwa RGZY tidak hanya membangun tembok suara, tetapi juga membuka jendela dialog dengan berbagai spektrum musikal.

EP ini adalah pengingat bahwa skena alternatif tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu momen untuk berteriak lagi. Dan sekarang, RGZY sedang memegang megafonnya. Kalau musik keras adalah bahasa perlawanan, maka Support System adalah dialek baru dari pinggiran Banten — kasar, jujur, dan menolak tunduk. (Fch)

Share :

Baca Juga