INSOMNIAEnt.id – Baris kalimat di atas membuka sebuah babak baru bagi Pemuja Melaka. Sebuah babak yang terasa lebih dingin, sunyi, dan sangat personal. Ada perasaan ganjil yang seringkali muncul saat seseorang tetap tinggal di kota tempat ia dilahirkan hingga beranjak dewasa. Sudut-sudut jalan yang sama, rutinitas yang itu-itu saja, hingga wajah kota yang seolah stagnan memicu kejenuhan yang mendalam. Bagi mereka yang menghabiskan hampir tiga dekade hidupnya di Medan, kota ini menjadi saksi bisu dari setiap fase pendewasaan yang kadang terasa menyesakkan. Keresahan tentang urban fatigue inilah yang coba ditangkap oleh Pemuja Melaka lewat karya terbarunya bertajuk “Sendiri”.
Zulfikar T. Sucipto, sosok di balik Pemuja Melaka, membawa pendengarnya masuk ke wilayah yang lebih gelap dari karya-karya sebelumnya. Ia mengeksplorasi estetika Urban Noir yang memadukan melankoli pop ballad dengan ketukan lo-fi hip-hop yang atmosferik. Untuk mempertegas narasi ini, ia mengajak Nartok seorang established rapper yang punya cara bercerita sangat tajam tentang realitas jalanan. Rekam jejak Nartok dalam kolaborasi bersama Basboi, White Chorus, hingga proyek remix .Feast, memberikan dimensi yang lebih jujur dan “kasar” pada lagu ini.

Rekam Kejadian Pukul Setengah Dua Malam
Lirik dalam “Sendiri” terasa seperti potongan memori yang diambil acak dari aspal jalanan Medan di tenga i h malam. Ceritanya sangat spesifik: tentang perjalanan pulang pukul setengah dua pagi, mampir ke tempat makan langganan sambil merenungkan nasib dunia yang terasa makin kacau, hingga urusan kehilangan korek api yang berulang kali terjadi. Detail-detail kecil ini menjadi simbol dari kekacauan mental yang dialami anak muda kota yang merasa terjebak dalam repetisi.
Kalimat “Medan kumohon, aku memelas” yang diteriakkan dalam baitnya menjadi puncak dari rasa lelah tersebut. Ini adalah sebuah pengakuan bagi siapa saja yang masih bertahan di tanah kelahirannya, merayakan kejenuhan sembari terus mencari makna di balik riuh rendahnya suasana kota yang makin menekan.
Arsitektur Suara dari Bio SW
Eksplorasi audio dalam lagu ini lagi-lagi kembali diproduseri oleh Bio SW. Sebagai peramu suara yang sudah lama menjadi kolaborator setia Pemuja Melaka, Bio SW memiliki peran krusial dalam mengunci atmosfer lagu ini agar tetap terasa “dingin” dan sepi. Kepekaannya dalam mengolah audio sudah teruji lewat keterlibatannya sebagai produser untuk nama-nama besar seperti Nuh… hingga Oslo Ibrahim. Di tangan Bio SW, setiap elemen instrumen dalam “Sendiri” diletakkan dengan presisi, memastikan perasaan jenuh yang ingin disampaikan bisa menyentuh pendengar secara personal melalui kualitas audio yang matang.
Visual dan Perjalanan Menuju Album Debut
Kekuatan narasi lagu ini didukung penuh oleh visual yang digarap oleh Hassan Albana sebagai desainer artwork. Sementara itu, departemen fotografi dipercayakan kepada duo Szniperture dan Androy, yang berhasil menangkap sisi mentah dan “raw” dari hiruk-pikuk Medan melalui lensa mereka.
Peluncuran “Sendiri” pada hari ini juga dibarengi dengan rilisnya Official Lyric Video sebagai pendamping visual utama. Single ini hanyalah langkah awal dari perjalanan besar Pemuja Melaka di tahun 2026. Ia dijadwalkan akan melepas single lanjutan pada awal April mendatang, sebelum akhirnya menutup rangkaian ini dengan peluncuran debut full-length album di awal Mei 2026.









