INSOMNIAEnt.id – Setelah perjalanan panjang, Zulfikar T. Sucipto, melalui proyek solo PEMUJA MELAKA, merilis album penuh perdana bertajuk The Other Chance. Album berisi 11 nomor bernuansa Alternative/Indie Pop ini hadir di berbagai Digital Streaming Platform pada 8 Mei 2026.
Perilisan The Other Chance menjadi titik temu dari narasi musik Pemuja Melaka yang dibangun sejak debut single “Kita Berpisah di Bulan Juni” pada Juni 2024, serta peluncuran official visualizer untuk “Pretty Words” di awal tahun ini.
Secara tema, album ini merangkum narasi personal tentang penerimaan diri dan sebuah garis start yang baru. Terdapat transisi emosional yang kentara dari pertanyaan eksistensial dan rasa sakit di awal album, lewat nomor pembuka “Lantas Apa Yang Kau Cari Dalam Hidup Ini?”, menuju penerimaan hidup dan kedamaian di akhir pada lagu penutup “We’re Gonna Be Alright”. Keseluruhan liriknya sangat kental dengan prinsip Amor Fati, sebuah sikap untuk mencintai dan menerima takdir, baik maupun buruk, untuk terus melangkah maju. Hal ini membuat penceritaan dalam The Other Chance terasa matang dan berdaya.

“Album ini bisa dibilang penebusan dosa atau hutang dari diriku sendiri untuk diriku sendiri,” jelas Zulfikar mengenai pengerjaan album ini. “Dulu, aku seharusnya merilis album debut bersama Lily Ayu waktu masih nge-band bareng, namun terhalang pandemi dan kami hanya bisa merilis EP. Pada akhirnya, aku memilih untuk melanjutkan jalan ini sendirian dengan membuat proyek solo PEMUJA MELAKA. Sebagai musisi, goals-nya sudah pasti memiliki album penuh. Terserah pada akhirnya karya ini akan didengar banyak orang atau tidak.”
Aransemen dalam album ini mempertemukan estetika indie pop lokal dengan struktur alternatif yang padat. Zulfikar meleburkan pengaruh dari Hindia, Kunto Aji, dan Perunggu dengan referensi global seperti The Killers, Oasis, Muse, dan 1975. Pada departemen lirik berbahasa Inggris, ia mengadaptasi gaya penulisan The Cure yang melankolis namun lugas.
Zulfikar bertindak sebagai penulis utama sekaligus co-producer. Produksi audio secara dominan dipercayakan kepada produser Bio Satriowaskito, yang sebelumnya menangani produksi untuk Nuh hingga Oslo Ibrahim. Sementara itu, trek “Kita Berpisah di Bulan Juni” dan “Samsara” dieksekusi bersama produser Adrian Timothys dari Psychotic Villager.
Kolaborator lain yang terlibat adalah rapper asal Medan, Nartok, pada lagu “Sendiri” yang menyoroti realitas dinamika kehidupan. Xcorpio turut meminjamkan vokalnya untuk memberikan dimensi emosional pada lagu penutup, “Ode To The Light”.
Pemuja Melaka menetapkan empat lagu sebagai focus tracks: nomor eksistensial “Lantas Apa Yang Kau Cari Dalam Hidup Ini?”, balada “Kita Berpisah di Bulan Juni” dan “Pretty Words”, serta lagu kolaborasi “Sendiri (ft. Nartok)”.
Di bawah naungan dan distribusi SIN RECORDS, The Other Chance dapat diakses secara serentak di Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan layanan streaming digital lainnya mulai Jumat, 8 Mei 2026. Bersamaan dengan peluncuran digital, PEMUJA MELAKA membuka sesi pre-order untuk format fisik terbatas berupa 50 kaset pita dan 100 keping CD. Paket penjualan fisik ini menyertakan merchandise pendukung seperti t-shirt eksklusif.
TRACKLIST “THE OTHER CHANCE”:
- Lantas Apa Yang Kau Cari Dalam Hidup Ini?
- Sendiri ft Nartok
- Diriku Yang Ini, Diriku Sendiri…
- Pretty Words
- My Sally
- Kita Berpisah di Bulan Juni
- Samsara
- No Way Home
- Faith
- Ode To The Light ft Xcorpio
- We’re Gonna Be Alright
TENTANG PEMUJA MELAKA
PEMUJA MELAKA adalah proyek solo Zulfikar T. Sucipto, musisi dan penulis lagu asal Medan. Nama ini merupakan akronim dari “Pemuda Jawa yang lahir dan tumbuh di tanah Melaka (Melayu)”. Melalui moniker ini, Zulfikar mengekspresikan perjalanan hidupnya lewat lirik dan melodi yang memadukan akar tradisi dengan eksplorasi modern.
Kata “Melaka” berakar dari bahasa Sanskerta “Amalaka”. Dalam proyek musik ini, Melaka merepresentasikan identitas budaya dan tempat asal yang membentuk karakter setiap karyanya. Penulisan lagunya menitikberatkan pada observasi psikologis terhadap perilaku manusia serta prinsip ketenangan dalam menerima takdir.









