PEMUJA MELAKA Resonansi Energi ‘The Killers’ dalam Balutan Dream Pop di Single Terbaru “No Way Home”

INSOMNIAEnt.idPEMUJA MELAKA tidak ingin basa-basi tahun ini. Proyek solo Zulfikar T. Sucipto ini langsung tancap gas membuka 2026 dengan single “No Way Home”. Lagu ini bukan sekadar rilisan lepas, melainkan peluru pertama dari misi ambisiusnya: merilis satu lagu setiap bulan hingga album penuh lahir di pertengahan tahun nanti.

Menghidupkan Arsip Lama “No Way Home” punya napas panjang sebelum akhirnya dirilis. Materi ini ditulis Zulfikar bersama Isfan Tubagus pada 2020, saat mereka masih berbagi panggung di Lily Ayu. Enam tahun “tidur” di hard disk, Zulfikar merasa materi ini terlalu sayang jika dibiarkan hilang. Ia memutuskan membongkarnya kembali dan memberinya nyawa baru di bawah bendera PEMUJA MELAKA.

Visi produksinya jelas: Zulfikar dan produser Bio SW ingin merombak materi lama ini menjadi sesuatu yang masif. Mereka meninggalkan kesan cengeng demi mengejar kemegahan bunyi.

Bedah Musik: Ketika Distorsi Bertemu Sunyi Secara aransemen, “No Way Home” adalah surat cinta untuk era Rock Alternatif pertengahan 2000-an. Tim produksi membangun “dinding suara” (Wall of Sound) yang padat dan bertenaga.

Zulfikar dan Isfan mengisi departemen gitar dengan layer yang lebar, didukung fondasi ritmis agresif dari bass Tengku Jozarky dan drum Bio SW. Namun, di tengah gemuruh instrumen itu, vokal Zulfikar justru hadir dengan pendekatan kontras. Suaranya dibalut reverb tebal, terdengar mengawang dan tenang.

Hasilnya adalah nuansa Dream Pop yang unik: musiknya mengajak bergerak, tapi vokalnya mengajak merenung.

Tentang “Lingkaran Setan” Di balik musiknya yang bising, lirik “No Way Home” menyoroti kelelahan emosional. Zulfikar memotret fase hubungan yang sudah macet, di mana pasangan sadar mereka hanya “berlari di lingkaran yang sama” (running in the same circle).

“Lagu ini tentang titik sadar bahwa bertahan itu kadang lebih menyakitkan daripada melepaskan,” ujar Zulfikar. “Judul ‘No Way Home’ itu simbol kondisi ketika kita nggak bisa balik ke masa lalu. Satu-satunya jalan ya harus pisah jalan buat nemuin diri sendiri lagi.”

Visual & Produksi Atmosfer “tersesat” dalam lagu ini diterjemahkan secara visual oleh Muhammad Fauzan (fotografi) dan Hassan Albana (artwork), yang menangkap sisi gelap namun puitis dari lagu tersebut. Seluruh proses produksi dikerjakan di SW Production.

Share :

Baca Juga